Random: without title

Kau tahu ada suatu keadaan dimana kamu menyadari sesuatu bahwa ada yang lebih berkuasa pada dirimu dibandingkan dirimu sendiri.

Saat ini, sedang suka sebuah kalimat “ ketika seseorang kembali ke titik nol, ia sejatinya kembali mencari Tuhannya”.

Ada hal ketika kehidupan kita dikelilingi oleh dunia fantasi dari novel-novel, dongeng-dongeng, tayangan pertelevisian yang kaya akan cerita tidak logis atau berbau khayalan, kita berpikir bahwa dunia itu seakan-akan nyata. Seakan-akan real dan terjadi. Karena otak kita berpikir bahwa dunia yang penuh daya khayal itulah yang memberikan kenyamanan. Karena sejatinya, dunia fantasi yang digambarkan dalam buku, media elektronik dll merupakan harapan, zona nyaman yang dibangun oleh alam bawah sadar kita.

Ketika kita memperoleh suatu masalah dan ada suatu titik dimana kita mengetahui akhir yang tidak menyenangkan untuk kita maka timbullah suatu keadaan dimana kita memaksa otak untuk berpikir “Seandainya… maka…” pemikiran seandainya itulah yang membawa kita pada dunia khayal kita.

Hei, bukan berarti menyalahkan bahwa dunia khayal itu tidak perlu. Dunia khayal yang dikonotasikan dalam bahasan positif sebagai daya imajinasi membantu kita menciptakan sesuatu yang dicita-citakan di masa depan dan berusaha menciptakannnya. Itu bagus. Masalahnya, sebagian besar dari kita lebih memilih menggunakan daya khayal itu untuk mundur ke belakang dan bahkan negatif yang diperoleh.

Tengoklah, seorang gadis yang mengharapkan lelaki itu menjadi miliknya. Coba tebak apa yang ada dipikiran sang gadis. “ Ah, seandainya aku lebih cantik, maka dia akan menatapku. Seandainya tadi aku tidak mengucapkan kata-kata yang salah maka ….bla.bla.bla” dan ia akhirnya mengungkung dirinya dalam dunianya yang nyaman itu. Pemikiran itu tidak timbul dengan sendirinya, kebiasaan membaca novel roman membantu otak membangun kerangka cerita yanng lebih indah pada dirinya.

Pada saat kita membiasakan dunia kita dalam dunia khayal, dunia fantasi kita, maka ada suatu keadaan dimana lebih memilih dunia khayal sehingga parahnya tidak bisa membedakan mana suatu realita dan mana yang hanya fiktif belaka. Inilah suatu keadaan yang paling penulis dikhawatirkan. Bayangkan saja, apa yang akan terjadi pada Anda ketika Anda sudah tidak bisa membedakan mana yang realita dan bukan.

“Masih dengan tulisan yang belum jelas maknanya”

Bogor, 6 Mei 2013

tugas kuliah biokimia klinis

  1. 1.           Fumarase (nama lainnya)

Fumarase atau fumarat hidratase merupakan enzim yang mengkatalisi reaksi reversibel hidrasi/dehidrasi fumarat menjadi malat. Berasal dari mitokondria dan sitosol. Enzim ini terlibat dalam 3 jalur metabolisme yaitu siklus TCA,  fiksasi CO2 dan di dalam karsinoma sel renal.

  1. 2.           Kompleks piruvat dehidrogenase

Piruvat dioksidasi menjadi asetil KoA dikatalisis oleh kompleks piruvat dehidrogenase di dalam mitokondria. Kompleks piruvat dehidrogenase ini melibatkan 3 macam enzim yaitu piruvat dehidrogenase, dihidrolipoil transasetilase dan  dihidrolipoil dehidrogenase. Selain 3 enzim yang terlibat, ada 5 koenzim yang juga terlibat di kompleks ini yaitu tiaminpirofosfat, asam lipoat, koenzim-A, FAD dan NAD. Reaksi oksidasi piruvat menjadi asetil KoA ini berlangsung dalam 5 tahap reaksi.

Reaksi ini merupakan jalan masuk utama karbohidrat kedalam daur Krebs.Tahap reaksi pertama dikatalis oleh piruvat dehidrogenase yang menggunakan tiamin pirofosfat sebagai koenzimnya. Dekarboksilasi piruvat menghasilkan senyawa α-hidroksietil yang terkait pada gugus cincin tiazol dari tiamin pirofosfat. Pada tahap reaksi kedua α-hidroksietil didehidrogenase menjadi asetil yang kemudian dipindahkan dari tiamin pirofosfat ke atom S dari koenzim yang berikutnya, yaitu asam lipoat, yang terikat pada enzim dihidrolipoil transasetilase. Dalam hal ini gugus disulfida dari asam lipoat diubah menjadi bentuk reduksinya, gugus sulfhidril. Pada tahap reaksi ketiga, gugus asetil dipindahkan dengan perantara enzim dari gugus lipoil pada asam dihidrolipoat, kegugus tiol (sulfhidril pada koenzim-A). Kemudian asetil ko-A dibebaskan dari sistem enzim kompleks piruvat dehidrogenase.

Pada tahap reaksi keempat gugus tiol pada gugus lipoil yang terikat pada dihidrolipoil transasetilase dioksidasi kembali menjadi bentuk disulfidanya dengan enzim dihidrolipoil dehidrogenase yang berikatan dengan FAD (flavin adenin dinukleotida). Akhirnya (tahap reaksi kelima) FADH+ (bentuk reduksi dari FAD) yang tetap terikat pada enzim, dioksidasi kembali oleh NAD+ (nikotinamid adenin dinukleotida) manjadi FAD, sedangkan NAD+ berubah menjadi NADH (bentuk reduksi dari NAD+).

  1. 3.             Rantai Transpor Elektron

Sistem transpor elektron sering disebut sistem rantai respirasi atau sistem oksidasi terminal. Transpor elektron merupakan rangkaian reaksi yang berlangsung pada krista dalam  mitokondria . Reaksi ini diawali saat NADH dan FADH2 memberikan ion Hdan elektron pada sistem  transpor. Hipotesis tentang transpor elektron ini dikemukakan oleh Peter Mitchell. Rangkaian reaksi transpor elektron ini sangat kompleks, tetapi molekul yang berperan adalah NADH dan FAD. Selain itu, molekul yang ikut berperan adalah molekul oksigen, senyawa Q (Ubiquinone), enzim-enzim sitokrom b, sitokrom c1, sitokrom c, sitokrom a, dan sitokrom a3.

Elektron pertama-tama berasal dari NADH kemudian ditransfer ke FADH. Dari FADH, elektron ditransfer ke koenzim Q kemudian ke sitokrom b, c, dan a. Selanjutnya, elektron dari sitokrom a disampaikan ke oksigen. Molekul oksigen menangkap elektron dari sitokrom a kemudian berikatan dengan hidrogen dari lingkungan. Ikatan dengan hidrogen membentuk molekul air (H2O) sebagai hasil sampingan respirasi. Selian itu, hasil sampingan lainnya yang berupa CO2 diangkut ke saluran pernapasan untuk dikeluarkan.

Pada sistem transpor elektron, oksigen adalah akseptor elektron yang terakhir dan menghasilkan 34 ATP, namun karena 2 ATP masuk ke mitokondria maka jumlah ATP pada sistem ini adalah 32 ATP. Jadi, selama reaksi oksidasi dari satu molekul glukosa dapat dihasilkan 36 ATP, terdiri atas 2 ATP dari glikolisis, 2 ATP dari siklus krebs dan 32 ATP dari transpor elektron.

Hasil utama dari Respirasi adalah energi. Energi tersebut akan digunakan membentuk ATP, yang selanjutnya akan digunakan untuk proses hidup yang selalu memerlukan energi. Energi terbesar yang dihasilkan oleh proses respirasi berawal dari reaksi transport elektron.

PAPS Reduktase: Enzim Penting Bakteri Pengolah Sulfur

Oleh:

Fatimah Awwaliyah

Disusun sebagai tugas mata kuliah Integrasi dan Regulasi Metabolisme

Departemen Biokimia

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Institut Pertanian Bogor

Bogor

2013

Sulfur merupakan unsur penting, bahan yang digunakan oleh semua makhluk hidup. Bentuk umum sulfur di alam ditemukan dalam bentuk sulfat anorganik. Bakteri prototrofik menggunakan sulfat anorganik ini sebagai sumber utama dalam mensuplai sulfur untuk biosintesis asam amino seperti sistein dan kofaktor esensial (Lillig et al. 2003). Sulfur dalam bentuk sulfat anorganik termasuk heksavalen oleh sebab itu perlu direduksi menjadi divalen. Reduksi menjadi divalen ini menggunakan 8 elektron yang berasal dari tioredoksin dan feredoksin (Savage et al. 1997).

Redoks potensial reduksi sulfat menjadi sulfit sangat rendah nilainya, Eo’ = -517 mV sehingga reaksi ini berjalan sangat lambat di dalam keadaan biologis. Oleh karena itu, sulfat anorganik ini perlu diaktifkan. Pengaktifan ini dilakukan secara adenilasi dengan enzim ATP sulfurilase menghasilkan APS dan PPi. APS difosforilasi menjadi PAPS oleh enzim APS kinase. PAPS kemudian direduksi menjadi sulfit dengan enzim PAPS reduktase (Savage et al. 1997, Nelson & Cox 2008).

Gambar 1 Reaksi yang dikatalisis oleh PAPS reduktase

Enzim PAPS redukstase pada E.coli dikodekan oleh gen cysH yang berlokasi di operon kecil bersama degan cysJI yang merupakan gen struktural sulfit reduktase. Enzim PAPS reduktase tersusun dari 244 asam amino dengan bobot molekul 27927 Da. Enzim ini terdiri atas dua subunit identik berukuran 28 kDa, mengandung 1 sistein per unitnya (Lillig et al. 2003). Enzim ini aktif bila berada dalam keadaan homodimer.

Enzim PAPS reduktase (PR) juga bisa disebut sebagai protein pengikat nukleotida. Protein ATP-GTP-dependent kaya akan sekuens glisin dengan tipe peptida fingerprint ( loop P). Loop P ini berlokasi pada ujung pertama rantai β yang terbentuk karena adanya lubang anion besar yang mengikat fosfat mononukleotida. ATP pirofosfatase memiliki modifikasi loop P yang dinamakan dengan motif PP. Modifikasi tingkat tinggi motif PP ditemukan pada PAPS reduktase. Perbedaan antara ATP PPase atau ATP sulfurilase dengan PAPS yaitu PAPS reduktase tidak memiliki aktivitas ATPase (Savage et al. 1997).

Savage et al. (1997) juga mengemukakan PAPS reduktase ini terdiri atas 243 residu yang jika tanpa ujung N metionin, terdapat 215 residu yang ditempatkan. Sisi sampingnya terdiri dari residu lisin dan arginin yang jika diamati dari permukaan protein tidak nampak begitu juga dengan ujung N metionin. Meskipun terdapat ketidakjelasan struktur protein yang tidak biasanya, hasil pengukuran spektroskopi masa menunjukkan protein PR ini dalam kondisi kristal memiliki 230 residu dengan bobot molekul 26377.5 Da.

Gambar 2 Keseluruhan struktur PAPS reduktase

Hasil penelitian Savage et al. (1997) pada PAPS reduktase kristal menunjukkan protein ini aktif sebagai dimer dan monomernya terdiri atas 6 untai lembaran β dengan α heliks sebagai pengemas tiap sisinya. Meskipun PAPS reduktase tidak memiliki aktivitas ATPase, namun ada kesamaan struktur dengan ATP PPase yang merupakan domain GMP sintetase. Kesamaan dalam mekanisme dan pelipatan menjadikan keduanya digolongkan dalam kelompok baru enzim homolog dengan aktivitas adenin nukleotida α-hidrolase. Pada kondisi terbuka, PAPS reduktase yang tereduksi dapat berikatan dengan PAPS menghasilkan sulfit sedangkan dalam kondisi tertutup, oksidasi tidak dapat berjalan.

Sebelumnya sudah disebutkan untuk mereduksi sulfat menjadi sulfit dibutuhkan PAPS reduktase. Reduksi oleh enzim ini membutuhkan 2 elektron selama oksidasi sistein PR menjadi disulfida. Oksidasi enzim ini masih bersifat inaktif dan harus direduksi lagi lebih lanjut. Struktur kristal PR melibatkan mekanisme ping-pong selama reduksinya. Reaksi tahap satu digambarkan sebagai berikut (Lillig et al. 2003):

Selanjutnya bentuk reduksi PR akan mengkatalisis reaksi reduksi PAP melepaskan PR teroksidasi, sulfit bebas dan PAP. Selama oksidasi dimer enzim mngalami perubahan yang menyebabkan pengurangan bobot molekul secara signifikan dan ketidakmampuan pengikatan PAPS. Pada tahap kedua ini, PR teroksidasi direduksi oleh tioredoksin yang ditunjukkan pada persamaan berikut:

atau dengan glutaredoksin:

Tioredoksin dan glutaredoksin keduanya merupakan protein ubiquinon kecil yang menggunakan 2  redoks-aktif sistein untuk mengkatalisis reduksi disulfida.

Mekanisme enzimatis pembentukan sulfit pada S.cerevisiae telah diteliti menggunakan PAPS reduktase yang telah dimurnikan dan tioredoksin dalam membentuk sulfit. Tioredoksin pada S.cerevisiae ini berperan sebagai ko-substrat (Schwenn et al. 1988). Peranan tioredoksin tersebut juga dikemukakan Berendt et al. (1995) sebagai donor elektron.

Kinerja PAPS reduktase sebagaimana enzim-enzim lainnya dapat diinhibisi. Penelitian Berendt et al.(1995) menunjukkan enzim PR dapat diinhibis oleh reagen yang memodifikasi gugus sistein secara kovalen di protein. Inhibitor tersebut antara lain N-bromosuksinimida, p-kloro-merkuribenzena, reagen-SH fluoresens maupun N-etilmaleimida. Reagen N-etilmaleimida tidak efektif sebagai inhibitor dibandingkan dengan inhibitor lainnya. Inhibisi oleh N-bromosuksinat tidak dapat mengembalikan aktivitas enzim meskipun protein sudah diinkubasi dalam merkaptoetanol atau ditioetriol berlebih.

Koagulasi Darah dan Fibrinolisi Saat Terluka

Hemostasis merupakan sebuah proses untuk menghentikan proses pendarahan, untuk menjaga terhindar dari kerusakan pembuluh darah. Pada saat terluka, hemostasis akan terganggu. Pada saat itu,koagulasi darah dan fibrinolisis akan membantu cairan darah tetap dalam kondisi hemostasis. Sejumlah darah akan keluar dan untuk mencegah pengeluaran darah terlalu banyak, hemostasis dan trombosis bekerja sama dalam tiga fase (Murray et al. 2003).

Fase pertama, pembentukan agregat platelet yang longga dan sementara di sisi bagian yang terluka. Platelet ini akan berikatan pada kolagen di dinding pembuluh darah. Pengikatan ini dibantu oleh trombin yang sudah diaktifkan. Setelah itu, pada sisi yang sama, terjadi koagulasi dan pelepasan ADP dari proses aktivasi. Selama pengaktifan, bentuk platelet akan berubah dan muncul fibrinogen yang meupakan agregat yang dibentuk dalam proses hemostasis.

Fase selanjutnya, pembentukan fibrin yang berikatan pada platelet agregat. Fibrin dibentuk dari keadaan hemostasis  yang lebih stabil. Fase ketiga yaitu, pelepasan atau pelarutan senyawa  pada proses hemostasis oleh plasmin.

Pembentukan Fibrin

Ada dua jalur pembentukan fibrin, yaitu jalur intrinsik dan ekstrinsik (Murray et al. 2003). Akhir dari kedua jalur ini akan terkonversi pada jalur umum pengaktifan protrombin menjadi trombin dan pengaktifan fibrinogen menjadi fibrin yang dikatalisis trombin.

Selama proses koagulasi terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi jalannya proses tersebut. Faktror-faktor tersebut antara lain faktor I, II, III, IV, V, VII, VIII, IX, X, XI, XII, XII. Faktor I memiliki nama fibrinogen yang bersama dengan trombin dapat mengaktifkan fibrin. Faktor II dikenal juga sebagai protrombin. Faktor ini dalam koagulasi darah berfungsi mengaktifkan platelet aktif oleh protrombinase complex. Faktor III dan IV merupakan kofaktor yang mengandung Ca2+. Faktor-faktor yang lainnya memiliki peranan masing-masing dalam koagulasi darah.

Faktor Xa yang dihasilkan baik dari jalur intrinsik dan ekstrinsik, akan mengaktifkan protrombin (faktor II) menjadi trombin (faktor Iia) yang selanjutnya mengkonversi fibrinogen menjadi fibrin. Aktivasi protrombin membutuhkan protrombinase kompleks yang mengandung platelet fosfolipid anion, Ca2+, faktor Va, Xa dan protrombin. Faktor-faktor tersebut akan menghasilkan 2 rantai molekul trombin yang diikat oleh ikatan disulfida.

Trombin yang sudah aktif akan mengaktifkan fibrinogen menjadi fibrin. Fibrinogen merupakan larutan glikoprotein plasma yang terdiri dari tiga rantai polipeptida yang nonidentik yang terhubung oleh ikatan disulfida. Ketiga rantai polipeptida tersebut disintesis di hati dan baru diregulasikan ke tubuh. Trombin yang merupakan serin protease akan menghidrolis 4 ikatan Arg antara fibrinopeptida  rantai α β fibrinogen. Pada saat pengkonversian fibrinogen menjadi fibrin, trombin juga akan mengkonversi faktor XIII menjadi faktor XIIIa yang merupakan transglutaminase spesifik. Enzim ini akan menghasilkan fibrin yang lebih stabil.

Trombin peredarannya harus dikontrol karena berpengaruh terhadap pembentukan fibrin. Pengaturannya dapat dengan feedback mechanism dan ccirculating inhibitory. Normalnya keempat inhibitor trombin berada di membran plasma. Dari keempat inhibitor tersebut yang paling penting adalah antitrombin inhibitor yang berperan sekitar 75% dalam aktivitas antitrombin. Inhibitor ini dapat menghambat aktivitas faktor Ixa, Xa, Xia, XIIa, dan VIIa yang berperan dalam koagulasi darah.

Keberadaan senyawa heparin semakin meningkatkan aktivitas antitrombin. Heparin akan mengikat sisi kation antitrombin III, mengubah konformasinya, dan memulai mengikat trombin. Prinsip inilah yang menjadikan heparin di dalam dunia kedokteran digunakan sebagai antikoagulan. Selain heparin, antikoagulan lain adalah komarin. Komarin ini akan menghambat vitamin K yang digunakan untuk karboksilasi Glu menjadi residu Gla yang merupakan terminal amino pada faktor II, VII, IX , X, protein C dan S.

Setelah fibrin melakukan fungsinya dalam koagulasi darah, fibrin harus didegradasi untuk menjaga keseimbangan dalam sistem koagulasi. Proses penghancuran dan pelarutan fibrin ini disebut fibrinolisis. Sistem fibrinolisis terdiri dari tiga komponen utama yaitu sistem plasminogen, aktivator plasmin dan inhibitor plasmin (Budhiarta 2007).

Plasmin dibentuk dari reaksi enzimatis multikomponen pada sistem plasminogen. Plasmin merupakan serin protease yang bertanggung jawab terhadap degradasi fibrin dan fibrinogen. Plasmin tersirkuasi dalam bentuk zimogen inaktif yaitu plasminogen. Plasmin diaktivasi oleh dua jenis aktivator yaitu tissue-type PA (t-PA) dan urokinase-type PA (u-PA). Kinerja plasmin juga dapat dihambat oleh α2-antiplasmin (α2-AP) dan plasmingen activator inhibitor (Budhiarta 2007).

Alteplase (t-PA) merupakan serin protease yang masuk ke dalam sirkulasi dari vaskular endotelium  pada saat terluka atau stres. Aktivator ini akan mnegubah plasminogen menjadi plasmin yang dapat menjadikan fibrin mudah di degradasi dan larut. Baik plasmin dan aktivatornya dapat kembali berikatan pada produk degradasinya dalam bentuk fase cair sebagaimana sebelum diaktifkan. Aktivator plasminogen lainnya adalah urokinase. Awalnya diisolasi di urin, kemudian disintesis dari tipe makrofag, monosit, fibroblas dan sel epitel.

Hormon Leptin: Mekanisme dan Pengaruhnya

Sebagian besar manusia dapat mempertahankan berat tubuhnya dalam kurun waktu tertentu. Ada mekanisme keseimbangan energi dalam mempertahankan berat tubuh konstan tersebut, energi yang masuk harus setara dengan energi yang dikeluarkan. Ketika kesimbangan energi ini terganggu maka dapat menyebabkan berbagai masalah terkait berat seperti obesitas. Berat tubuh seseorang diatur oleh suatu sistem yang kompleks yang mencakup faktor utama maupun fakto r periferalnya. Ada dua hormon yang memiliki peranan penting dalam regulasi asupan makanan yaitu  leptin dan grelin. Kedua hormon ini memiliki jalur berbeda untuk menuju otak khususnya hipotalamus (Klok et al. 2006). Salah satu hormon yang berperan dalam regulasi penurunan berat badan adalah hormon leptin. Hormon tersebut diatur secara alami dalam mengontrol berat normal tubuh (Galland 2011).

Hormon leptin merupakan hormon yang disekresikan jaringan adiposa (Galland 2011). Selain di jaringan adiposa, leptin juga diproduksi di perut, mammary epithelium, plasenta dan jantung (Klok et al. 2006).

Hormon ini dapat menjadikan otak menangkap sinyal betapa banyak jumlah lemak di dalam tubuh. Hormon leptin diregulasikan dalam metabolisme pemecahan lemak. Peningkatan hormon leptin akan meningkatkan laju metabolisme ini dan laju metabolisme ini akan menurun jika jumlah leptin berkurang (Galland 2011).

Leptin membutuhkan reseptor leptin agar dapat bereaksi, LEPR. Gen LEPR berlokasi di kromosom 1 dengan 18 ekson dan 17 intron. Reseptor yang paling utama dan digunakan secara terus menerus adalah reseptor LEP-Rb. Reseptor tersebut diekspresikan di hipotalamus dan serebelum. Selain disitu, LEP-Rb juga diekspresikan di vaskulatur manusia, perut dan plasenta.

Leptin dikeluarkan ke dalam sitem sirkulasi oleh jaringan adiposa. Serum dan plasma leptin tertinggi terdapat pada orang yang memiliki BMI (Body mass index) tertinggi dan total persen lemak tubuh yang dimiliki. Leptin juga dapat menyebrangi Blood brain barrier (BBB) dan cairan cerebral spinal (CSF) yang juga dipengaruhi dari tingkat BMI. Setelah dikeluarkan oleh jaringan adiposa, leptin akan memberi sinyal ke otak dan memberikan informasi terkait status persediaan energi di dalam tubuh. Informasi ini yang dapat menyebabkan penurunan nafsu makan dan peningkatan pengeluaran energi dari lemak yang tersedia.

Kadar leptin di dalam tubuh dipengaruhi berbagai faktor. Faktor-faktor tersebut yaitu sediaan energi, asupan makanan, gender, umur, olahraga, serapan glukosa. Semakin besar energi yang disimpan semakin besar jumlah leptin yang dikeluarkan. Jumlah leptin pada wanita lebih tinggi dibandingkan pada pria. Pengaruh leptin juga semakin menurun ketika usia menua.

Studi regulasi leptin yang dilakukan pada tikus dan mencit menyebutkan setelah leptin dikeluarkan oleh jaringan adiposa ke aliran darah, leptin kemudian menyebrangi penghalang darah-otak (BBB) dan berikatan dengan reseptor leptin hipotalamik. Leptin yang terikat pada reseptor tersebut mempengaruhi aktivitas neuron hipotalamus dan ekspresi neuropeptida oreksigenik dan anoreksigenik.

Peptida oreksigenik dalam beberapa tingkat dipengaruhi grelin, termasuk neuropeptida Y (NPY), hormon konsentrasi melanin, AgRP, galanin, GALP. Hormon grelin di hipotalamus dapat menghambat kerja leptin. Peptida anoreksigenik, ekspresinya dikendalikan oleh leptin. Selain leptin, ada POMC, CART, neurotensin, CRH dan BDNF.

Perlakuan (treatment) leptin menghasilkan dalam jangka waktu panjang dapat menurunkan nafsu  makan, berat badan berkurang, aktivitas fisik meningkat, terjadi perubahan fungsi dan metabolisme endokrin .Pada jangka waktu pendek, leptin yang dihasilkan dari perut dapat mengontrol jumlah asupan makanan yang bisa diterima. Peranan leptin jangka pendek tersebut ditunjukkan oleh peptida usus yang menginduksi pelepasan gastric leptin. Sekresi gastrik leptin ini distimulus oleh insulin (Klok et al. 2006).

Fungsi hormon leptin yang dapat membantu menurunkan nafsu makan dan berat badan dimanfaatkan perusahaan obat dan kosmetik untuk melangsingkan tubuh. Sayangnya, fungsi hormon leptin dapat terganggu. Meskipun secara normal tubuh memproduksi leptin dan meregulasikannya untuk mempertahankan berat tubuh, terkadang, tubuh juga tidak dapat merespon perintah atau sinyal dari hormon ini (Galland 2011). Jika kondisinya seperti itu, maka tidak lain tubuh sudah resistan terhadap leptin (leptin resistance). Resisten leptin ini dapat menyebabkan terjadinya obesitas. Pengamatan pada penderita obesitas menunjukkan bahwa serum dan plasma leptin lebih rendah dibandingkan bukan penderita obesitas (Klok et al. 2006)

Resisten leptin ini terjadi disebabkan oleh pola hidup di zaman modern ini. Konsumsi junkfood, tidak pernah atau hanya sesekali olahraga, terlalu stres dan kurang tidur dapat menyebabkan tubuh resisten terhadap leptin. Sejumlah penelitian mengemukakan tidur malam sekitar 7-8 jam  rata-rata dapat menaikkan leptin namun jika kurang tidur, aktivitas leptin melambat sehingga tubuh mengalami peningkatan berat badan (Galland 2011). Pada tikus DIO, resisten leptin ini terjadi karena adanya aktivasi sinyal STAT3 oleh leptin periferal. Selain itu, situs resisten spesifik berkorelasi terhadap peningkatan SOCS3 di ARC ke inti hipotalamik. Ekspresi SOCS3 ini di ARC menyebabkan resisten leptin (Münzberg et al. 2005).

tanpa tahu makna

Ini hanya sebuah tulisan saja

Tanpa makna

Ini hanya sebuah coretan saja

Tanpa arti

 

Kau tahu

Ini hanya sekedar merah diatas putih

Hanya sekedar hiasan diujung dinding

 

Bahkan memang itu hanya sebuah simbol

Simbol yang bahkan

Kami sebagai bangsa tak begitu menghargai

Meski bercucur darah penghabisan demi itu

Itu hanya simbol

Tak berarti

 

Lihatlah

Seakan hanya ada duka yang terpatri dalam sang garuda

Tanpa seberkas harapan terbersit dalam dada pemuda

Sekali lagi jikalau ditanya apakah kau tahu

Apa itu pancasila?

 

Itu hanya sebuah patung garuda di tembok putih kelas sekolah

 

                                                            Bogor, 27 April 2013

15:16 WIB

Fafa_ima

Makhluk hidup y…

Makhluk hidup yang paling sukses adalah makhluk hidup yang paling bisa bertahan hidup (Edy Djauhari 2013)

kenyataanya kamu harus mampu bertahan dalam setiap kondisi untuk kesuksesan yang ingin diraih. Belajarlah bagaimana kecoa bisa bertahan hidup selama ini.

Apa bedanya antara suka, kagum, sama cinta?

Benar kata penulis di dakwatuna.com, cintailah yang kita miliki bukan mencintai apa yang belum menjadi milik kita.

Wajar, kalo kamu menyukai orang lain, mengagumi mereka atas dasar kekaguman pada kepintaran, kewibawaan mereka. Ada sesuatu didalam diri mereka yang menjadikan kamu mengagumi bahkan menyukai mereka. Sekali lagi itu wajar, fitrah sebagai manusia.

Sayangnya,kesukaan itu akan merambat menjadi zina mata, zina hati dan memikirkan hal yang tidak seharusnya dipikirkan. Sebagai seseorang yang menyukai mereka, maka orang tersebut akan selalu dalam keadaan memperhatikan mereka. Kekaguman, kesukaan pun merambat menjadi mencintainya dalam hati.

Meski hanya mencintainya didalam hati, tak ayal terkadang terbersit di hati untuk memilikinya, untuk mengetahui apa dia juga menyukai ‘aku’. Perhatian yang kita berikan pada dia (orang yang semula kita kagumi) akan menjadikan dia memberikan respon kepada kita dalam bentuk perhatian yang sama atau bahkan tidak. Sayangnya, bagi seseorang yang mencintai, apapun, sekecil apapun perhatian dia seperti hanya bertegur sapa, sms dari dia,atau senyuman dari dia, bahkan tatapan mata dia akan direspon oleh otak yang mencintai sebagai bukti bahwa dia memiliki perasaan yang sama dengan kita. Namun, bagaimana jika tidak?

Seseorang yang kita cintai sekarang belum tentu merupakan seseorang yang akan menjadi pasangan hidup kita baik di dunia dan diakhirat. Bukankah sungguh sebuah pemborosan mencintai seseorang yang bukan menjadi milik kita? Dan amat disayangkan karena kita telah membagi hati kita untuk orang lain yang bukan siapa-siapa dan tidak memberikan hati kita sepenuhnya terhadap seseorang yang telah ditakdirkan jadi pasangan hidup kita.

Sukailah, kagumi mereka dalam batas yang wajar. Yang menjadikan kamu termotivasi untuk menjadi seperti mereka atau lebih dari mereka. Karena suka itu wajar. Namun tetap menjaga mata kita dan hati kita, karena cinta bermula dari tatapan mata. Jaga hati kita dan berikan ia sepenuhnya kepada seseorang dimasa depan yang akan menjadi milik kita di dunia dan akhirat serta cintailah Dia yang menganugrahkan rasa cinta dihati hamba-Nya diatas segala cinta yang kamu berikan terhadap makhluk-Nya.

bakatku???

kupikir tadinya bakatku menyanyi.

Suara tipisku menghanyutkan perasaan orang

memainkan perasaan mereka dalam senang, bahagian maupun duka

tapi yang kutahu orang bahkan tak peduli dengan suaraku

dengan tegas, wajah penolakan itu ada

 

kupikir musik adalah jiwaku

aku tahu mana musik-musik yang mengalun indah

aku tahu dimana nada-nada itu salah

apa kata mereka, pengomentar nada?

O, iya harmonisasi nada

tapi, sayang meski telah kucoba pun

aku tak bisa memainkan satu alat musik pun

 

kupikir darah seniku mengalir dalam dunia peran dan tari

setiap ku baca naskah, aku tahu bagaimana ekspresi itu harus dikeluarkan

aku yakin setiap gerak tubuhku, setiap tutur kataku begitu natural..

apa yang kata mereka, menghayati peran

setiap musik mengalun, aku yakin setiap anggota tubuhku akan menyatu menghasilkan gerakan indah nan mempesona

tapi, sayang

ekpresi natural itu

gerakan indah itu

benar-benar tak berwujud

 

lalu kupikir ini adalah seni terakhir yang kubisa

aku pikir, menulis adalah keahlianku

jemariku dengan indah menari diatas tuts-tuts keyboard mencipta melodi nada nan merdu

menciptakan untaian kata, menghipnotis jutaan pembaca lewat tulisanku

tapi nyatanya

meki jariku telah berada diatas keyboard

hanya kanvas putih kosong di windowsku dengan satu garis berkedip-kedip

 

akhirnya,

dengan sadar, aku tahu

aku tercipta tanpa seni apapun yang mengalir dalam diriku

tanpa bakat apapun

aku kosong                                                       

Bogor 17 Desember 2012 18:59 WIB

Imajinasiku

Imajinasiku liar

membahana menembus padang savana

menggelegar memekak telinga

Imajinasiku indah

seindah untaian warna nan elok, pelangi

sebening tetes embun

Imajinasiku melalang buana

menembus cakrawala

mengitari bulan lari ke bintang berhenti tepat di hadapan sang mentari

menyapu panas membara mentari dengan lembut senyum

Imajinasiku…terhenti

diatas lembar kosong

dihadapku

Bogor 17-12-12 18:29 WIB