Koagulasi Darah dan Fibrinolisi Saat Terluka

Hemostasis merupakan sebuah proses untuk menghentikan proses pendarahan, untuk menjaga terhindar dari kerusakan pembuluh darah. Pada saat terluka, hemostasis akan terganggu. Pada saat itu,koagulasi darah dan fibrinolisis akan membantu cairan darah tetap dalam kondisi hemostasis. Sejumlah darah akan keluar dan untuk mencegah pengeluaran darah terlalu banyak, hemostasis dan trombosis bekerja sama dalam tiga fase (Murray et al. 2003).

Fase pertama, pembentukan agregat platelet yang longga dan sementara di sisi bagian yang terluka. Platelet ini akan berikatan pada kolagen di dinding pembuluh darah. Pengikatan ini dibantu oleh trombin yang sudah diaktifkan. Setelah itu, pada sisi yang sama, terjadi koagulasi dan pelepasan ADP dari proses aktivasi. Selama pengaktifan, bentuk platelet akan berubah dan muncul fibrinogen yang meupakan agregat yang dibentuk dalam proses hemostasis.

Fase selanjutnya, pembentukan fibrin yang berikatan pada platelet agregat. Fibrin dibentuk dari keadaan hemostasis  yang lebih stabil. Fase ketiga yaitu, pelepasan atau pelarutan senyawa  pada proses hemostasis oleh plasmin.

Pembentukan Fibrin

Ada dua jalur pembentukan fibrin, yaitu jalur intrinsik dan ekstrinsik (Murray et al. 2003). Akhir dari kedua jalur ini akan terkonversi pada jalur umum pengaktifan protrombin menjadi trombin dan pengaktifan fibrinogen menjadi fibrin yang dikatalisis trombin.

Selama proses koagulasi terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi jalannya proses tersebut. Faktror-faktor tersebut antara lain faktor I, II, III, IV, V, VII, VIII, IX, X, XI, XII, XII. Faktor I memiliki nama fibrinogen yang bersama dengan trombin dapat mengaktifkan fibrin. Faktor II dikenal juga sebagai protrombin. Faktor ini dalam koagulasi darah berfungsi mengaktifkan platelet aktif oleh protrombinase complex. Faktor III dan IV merupakan kofaktor yang mengandung Ca2+. Faktor-faktor yang lainnya memiliki peranan masing-masing dalam koagulasi darah.

Faktor Xa yang dihasilkan baik dari jalur intrinsik dan ekstrinsik, akan mengaktifkan protrombin (faktor II) menjadi trombin (faktor Iia) yang selanjutnya mengkonversi fibrinogen menjadi fibrin. Aktivasi protrombin membutuhkan protrombinase kompleks yang mengandung platelet fosfolipid anion, Ca2+, faktor Va, Xa dan protrombin. Faktor-faktor tersebut akan menghasilkan 2 rantai molekul trombin yang diikat oleh ikatan disulfida.

Trombin yang sudah aktif akan mengaktifkan fibrinogen menjadi fibrin. Fibrinogen merupakan larutan glikoprotein plasma yang terdiri dari tiga rantai polipeptida yang nonidentik yang terhubung oleh ikatan disulfida. Ketiga rantai polipeptida tersebut disintesis di hati dan baru diregulasikan ke tubuh. Trombin yang merupakan serin protease akan menghidrolis 4 ikatan Arg antara fibrinopeptida  rantai α β fibrinogen. Pada saat pengkonversian fibrinogen menjadi fibrin, trombin juga akan mengkonversi faktor XIII menjadi faktor XIIIa yang merupakan transglutaminase spesifik. Enzim ini akan menghasilkan fibrin yang lebih stabil.

Trombin peredarannya harus dikontrol karena berpengaruh terhadap pembentukan fibrin. Pengaturannya dapat dengan feedback mechanism dan ccirculating inhibitory. Normalnya keempat inhibitor trombin berada di membran plasma. Dari keempat inhibitor tersebut yang paling penting adalah antitrombin inhibitor yang berperan sekitar 75% dalam aktivitas antitrombin. Inhibitor ini dapat menghambat aktivitas faktor Ixa, Xa, Xia, XIIa, dan VIIa yang berperan dalam koagulasi darah.

Keberadaan senyawa heparin semakin meningkatkan aktivitas antitrombin. Heparin akan mengikat sisi kation antitrombin III, mengubah konformasinya, dan memulai mengikat trombin. Prinsip inilah yang menjadikan heparin di dalam dunia kedokteran digunakan sebagai antikoagulan. Selain heparin, antikoagulan lain adalah komarin. Komarin ini akan menghambat vitamin K yang digunakan untuk karboksilasi Glu menjadi residu Gla yang merupakan terminal amino pada faktor II, VII, IX , X, protein C dan S.

Setelah fibrin melakukan fungsinya dalam koagulasi darah, fibrin harus didegradasi untuk menjaga keseimbangan dalam sistem koagulasi. Proses penghancuran dan pelarutan fibrin ini disebut fibrinolisis. Sistem fibrinolisis terdiri dari tiga komponen utama yaitu sistem plasminogen, aktivator plasmin dan inhibitor plasmin (Budhiarta 2007).

Plasmin dibentuk dari reaksi enzimatis multikomponen pada sistem plasminogen. Plasmin merupakan serin protease yang bertanggung jawab terhadap degradasi fibrin dan fibrinogen. Plasmin tersirkuasi dalam bentuk zimogen inaktif yaitu plasminogen. Plasmin diaktivasi oleh dua jenis aktivator yaitu tissue-type PA (t-PA) dan urokinase-type PA (u-PA). Kinerja plasmin juga dapat dihambat oleh α2-antiplasmin (α2-AP) dan plasmingen activator inhibitor (Budhiarta 2007).

Alteplase (t-PA) merupakan serin protease yang masuk ke dalam sirkulasi dari vaskular endotelium  pada saat terluka atau stres. Aktivator ini akan mnegubah plasminogen menjadi plasmin yang dapat menjadikan fibrin mudah di degradasi dan larut. Baik plasmin dan aktivatornya dapat kembali berikatan pada produk degradasinya dalam bentuk fase cair sebagaimana sebelum diaktifkan. Aktivator plasminogen lainnya adalah urokinase. Awalnya diisolasi di urin, kemudian disintesis dari tipe makrofag, monosit, fibroblas dan sel epitel.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s