Random: without title

Kau tahu ada suatu keadaan dimana kamu menyadari sesuatu bahwa ada yang lebih berkuasa pada dirimu dibandingkan dirimu sendiri.

Saat ini, sedang suka sebuah kalimat “ ketika seseorang kembali ke titik nol, ia sejatinya kembali mencari Tuhannya”.

Ada hal ketika kehidupan kita dikelilingi oleh dunia fantasi dari novel-novel, dongeng-dongeng, tayangan pertelevisian yang kaya akan cerita tidak logis atau berbau khayalan, kita berpikir bahwa dunia itu seakan-akan nyata. Seakan-akan real dan terjadi. Karena otak kita berpikir bahwa dunia yang penuh daya khayal itulah yang memberikan kenyamanan. Karena sejatinya, dunia fantasi yang digambarkan dalam buku, media elektronik dll merupakan harapan, zona nyaman yang dibangun oleh alam bawah sadar kita.

Ketika kita memperoleh suatu masalah dan ada suatu titik dimana kita mengetahui akhir yang tidak menyenangkan untuk kita maka timbullah suatu keadaan dimana kita memaksa otak untuk berpikir “Seandainya… maka…” pemikiran seandainya itulah yang membawa kita pada dunia khayal kita.

Hei, bukan berarti menyalahkan bahwa dunia khayal itu tidak perlu. Dunia khayal yang dikonotasikan dalam bahasan positif sebagai daya imajinasi membantu kita menciptakan sesuatu yang dicita-citakan di masa depan dan berusaha menciptakannnya. Itu bagus. Masalahnya, sebagian besar dari kita lebih memilih menggunakan daya khayal itu untuk mundur ke belakang dan bahkan negatif yang diperoleh.

Tengoklah, seorang gadis yang mengharapkan lelaki itu menjadi miliknya. Coba tebak apa yang ada dipikiran sang gadis. “ Ah, seandainya aku lebih cantik, maka dia akan menatapku. Seandainya tadi aku tidak mengucapkan kata-kata yang salah maka ….bla.bla.bla” dan ia akhirnya mengungkung dirinya dalam dunianya yang nyaman itu. Pemikiran itu tidak timbul dengan sendirinya, kebiasaan membaca novel roman membantu otak membangun kerangka cerita yanng lebih indah pada dirinya.

Pada saat kita membiasakan dunia kita dalam dunia khayal, dunia fantasi kita, maka ada suatu keadaan dimana lebih memilih dunia khayal sehingga parahnya tidak bisa membedakan mana suatu realita dan mana yang hanya fiktif belaka. Inilah suatu keadaan yang paling penulis dikhawatirkan. Bayangkan saja, apa yang akan terjadi pada Anda ketika Anda sudah tidak bisa membedakan mana yang realita dan bukan.

“Masih dengan tulisan yang belum jelas maknanya”

Bogor, 6 Mei 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s