Batik Berkembang atau Sungai Bersih?

Bermula dari sebuah kota industri, Pekalongan. Pekalongan telah dikenal baik dalam negeri maupun mancanegara sebagai kota industri penghasil batik. Dengan diakuinya batik sebagai kebuadayaan bangsa Indonesia oleh UNESCO, permintaan terhadap batik meningkat.Peningkatan permintaan ini menyebabkan produsen batik bertambah dan produsen lama mulai gencar meningkatkan jumlah produksi batik dan menciptakan motif-motif baru.

Proses pembuatan batik cukup susah. Dimulai dengan melukis motif menggunakan malam baik pada batik tulis maupun batik cap yang disebut molani, pencelupan/ pewarnaan baik untuk warna dasar dan bagi warna pola yang tertutup malam. Proses ini dilakukan berulang kali. Kemudian tahap nglorot, proses perebusan kain yang telah diwarnai, untuk menghilangkan lapisan malam. Terakhir,  penjemuran hingga menjadi bahan jadi.

Sayangnya, peningkatan produksi batik tidak lantas para produsen menyiapkan system pembuangan limbah. Pada tahapan pencelupan/ pewarnaan yang menggunakan pewarnaan dengan warna sintetik, hasil pencelupannya langsung di buang di perairan terdekat. Alhasil, zat-zat kimia yang terkandung larut dalam air sungai dan air parit. Hal ini menyebabkan sungai dan parit di Pekalongan berwarna hitam. Sungai yang berwarna hitam akibat pewarnaan ini tidak dapat mengurungkan niat warga melakukan aktivitas MCK ( Mandi, Cuci, Kakus).

Dampaknya, banyak warga yang tinggal di pinggiran sungai mengidap penyakit kulit dan diare. Jumlah ikan yang ditemukan pun sedikit karena sebagian besar ikan tidak dapat bertahan hidup di sungai dengan keadaan seperti itu. Lebih mengkhawatirkan lagi jika tidak segera ditangani, sungai yang sebagian besar bermuara ke Laut Jawa ini akan membawa zat-zat kimia tersebut ke laut sehingga laut tercemar.

Pemerintah kota Pekalongan sendiri sudah mulai mengambil tindakan dengan mengadakan penyuluhan bagi para produsen batik tentang pengolahan limbah ini. Para ilmuan Jepang pun sempat meneliti sungai-sungai dan solusinya. Tapi, hasilnya nihil.

Para produsen batik berdalih untuk mengembalikan sungai seperti sedia kala, maka produsen batik harus vakum untuk sementara. Ketika sudah kembali, produsen batik harus menyiapkan tempat khusus buat pengolahan limbah. Di masa vakum itu, produsen khawatir mengalami kerugian karena tonggak perekonomian Pekalongan adalah batik. Mereka mengatakan bahwa sungai yang hitam itu bias menjadi simbol bagi Pekalongan bahwa industri batik disana lancar. Semakin gelap warna sungai, semakin makmur Pekalongan. Selain itu, bagi produsen batik untuk menyiapkan lahan pengolah limbah dibutuhkan modal yang besar.

Padahal dengan bantuan pemerintah maka program pengolahan limbah industry batik ini dapat ditangani. Ada pengolahan limbah tekstil yang mungkin bisa diterapkan di Pekalongan dengan biaya yang tidak terlalu besar. Pengolahan limbah ini menggunakan system lumpur aktif. Ada 5 tahap:

  • Unit 1 : adalah proses penghilangan warna dengan sistem koagulasi dan sedimentasi.
  • Unit 2 : adalah proses penguraian bahan organik yang terkandung di dalam air limbah dengan sistem lumpur aktif.
  • Unit 3 : adalah proses pemisahan air yang telah bersih dengan lumpur aktif dari kolam aerasi.
  • Unit 4 : adalah proses penghilangan padatan tersuspensi setelah pengendapan.
  • Unit 5 : adalah proses pemanfaatan lumpur padat setelah pengepresan di belt press.

Inilah wajah Pekalongan.  Makmur dengan batik miskin lingkungan bersih.  Jadi, dibutuhkan peran pemerintah dengan tindakan nyata menangani lingkungan yang buruk khususnya sungai yang menghitam kembali sebagaimana fungsinya, mengembalikan ekosistem air sungai tanpa menyebabkan industri perbatikan bangkrut.

 

Daftar Pustaka

[Anonim]. 2007. Proses Pembuatan Batik [ Terhubung berkala]. http://batikpekalongan.wordpress.com/category/teknik-pembuatan-batik/. (19 September 2011)

[Anonim]. 2011. Cara Membuat Batik [terhubung berkala]. http:// pesonabatik.site40.net/Cara_Membuat_Batik.html. (19 September 2011)

Herlambang A. 2011. Teknologi Pengolahan Limbah Tekstil dengan Sistem Lumpur Aktif    [tehubung berkala].http://www.kelair.bppt.go.id/Sitpa/ Artikel/Tekstil/tekstil .html. (19 September 2011)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s