Pentingnya Pendidikan Karakter Bagi Indonesia Menghadapi Tantangan Globalisasi

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dua tantangan terbesar untuk Indonesia di era sekarang adalah adanya otonomi daerah dan era globalisasi. Globalisasi adalah intensifikasi hubungan sejagat yang menghubungkan tempat-tempat yang berjauhan sedemikian rupa, sehingga peristiwa local bisa terjadi disebabkan oleh kejadian di tempat lain sekian jauh milnya dan sebaliknya. Globalisasi inilah yang menyebabkan terjadinya perbauran antara budaya satu dengan yang lain.
Era globalisasi di Indonesia ditandai dengan maraknya budaya asing yang masuk ke Indonesia, penggunaan bahasa asing dan gaya hidup bangsa asing. Contohnya pada kehidupan nyata yaitu gaya busana yang kebarat-baratan, demam music korea, minuman keras dan lain-lain. Penyebaran gaya hidup ini dibantu dengan dipermudahnya akses internet sehingga tidak hanya kaum remaja, anak-anak usia dini mulai mengikuti seperti pacaran saat SD, bersolek layaknya artis korea. Hal itu menyebabkan budaya Indonesia tidak tersentuh oleh kaum muda.
Kunci sukses untuk menghadapi tantangan globalisasi ini yaitu terletak pada karakter sumber daya manusia bangsa Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan adanya peningkatan kualitas sumber daya manusia khususnya terlatak pada karakter individu tersebut.

B. Tujuan
Tulisan ini dibuat dengan tujuan bahwa bangsa Indonesia membutuhkan penerapan pendidikan karakter guna menghadapi ancaman globalisasi sehingga tercipta individu-individu yang berkualitas serta tidak mudah terpengaruh dalam hal-hal keburukan.

ISI

Globalisasi dan Pendidikan Karakter
Globalisasi yang sejalan dengan perkembangan teknologi dan media menyebabkan berbagai informasi mudah diperoleh baik dikalangan tua maupun muda. Sayangnya, informasi yang diperoleh tidak semuanya positif bahkan dominan informasi yang negative. Di era sekarang, karakter bangsa Indonesia telah berubah. Kaum tua yang berada di kursi legislative melakukan tindakan tidak terpuji seperti melakukan korupsi, pertengkaran di sidang DPR dapat dengan mudah di jumpai di media televise hingga internet. Hal itu juga diperlihatkan pada film-film Indonesia yang masih memperlihatkan kekerasan, ketidaksopanan terhadap orang tua, artis-artis yang menggunakan baju-baju tidak layak pakai dapat diakses dengan mudah di televise dan internet. Padahal kedua media tersebut adalah media yang sering dimanfaatkan anak-anak dan remaja. Alhasil, banyak tingkah laku anak-anak dibawah umur yang tidak pantas seperti turut berpakaian mini, pacaran di usia dini, membentak orang tua dll.
Padahal karakter bangsa Indonesia menurut Prof. Winarno Surakhmat dalam harian Kompas ( 10 Oktober 2011) adalah nerimo, penurut serta ramah tamah. Namun, dengan era globalisasi ini, karakter bangsa Indonesia saat ini mulai pupus. Maka dari itu, menurut Menteri Pendidikan, Muhammad Nur, pendidikan karakter sangat diperlukan. Hal itu juga diamini oleh M. Hatta Rajasa.
Berkaitan dengan pentingnya pendidikan karakter di Indonesia, M. Hatta Rajasa mengatakan karakter suatu bangsa berperan besar dalam mempertahankan eksistensi dan kemerdekaannya. Cukup banyak contoh empiris yang membuktikan bahwa karakter bangsa yang kuat berperan besar dalam mencapai tingkat keberhasilan dan kemajuan atau progress pembangunan. Sejalan dengan hal itu, maka kemandirian dan martabat suatu bangsa di era globalisasi akan sangat ditentukan oleh kapasitas bangsa tersebut dalam membina dan mengembangkan suatu pranata ekonomi dan sosial-politik yang menunjang peningkatan daya saing secara terus menerus. Bangsa yang berhasil di era milenium ini adalah bangsa dengan kapasitas daya saing tinggi, yang rakyatnya memiliki kapasitas berpikir yang cerdas, kemampuan imajinasi dan kreasi yang tak terbatas dan mental yang robust atau tahan banting.
Sebaliknya tanpa adanya kapasitas daya saing yang tinggi, maka bangsa tersebut tidak akan mampu memberikan komplementasi yang berarti pada sistem sivilisasi global dan memberikan peran pada sektor-sektor ekonomi yang bernilai tambah tinggi. Tanpa adanya upaya dan komitmen bagi suatu bangsa untuk meningkatkan daya saingnya, maka kita sangat berisiko menjadi bangsa yang termarginalkan di era kompetisi global. Lemahnya daya saing suatu bangsa akan mengakibatkan rentannya kemandirian bangsa tersebut karena akan terjebak pada dua perangkap globalisasi. Kedua perangkap ini umumnya dengan cepat dapat dialami oleh suatu bangsa dengan karakter yang lemah. Sebagai misal perangkap teknologi akan menjebak sebuah bangsa untuk membangun industri yang hanya berbasiskan pada lisensi atau re-alokasi pabrik tanpa adanya pembinaan kapabilitas teknologi, sehingga bangsa tersebut, meskipun tampaknya dapat memfabrikasi berbagai produk, namun esensinya proses fabrikasi itu sebenarnya hanya dilakukan pada tahapan yang relatif tidak atau kurang penting. Adapun tahapan dari proses yang lebih penting (atau sangat penting) dari proses fabrikasi tersebut masih dikuasai oleh negara asing. Sehingga pada akhirnya bangsa yang demikian aktifitas industrinya akan sangat bergantung dengan entitas asing.

Adapun perangkap budaya umumnya adalah dalam bentuk intervensi tata nilai unsur-unsur asing kepada budaya lokal suatu bangsa. Hal ini sangat dimungkinkan sejalan dengan kemajuan teknologi informasi dan telekomunikasi serta transportasi yang menjadikan interaksi antar manusia menjadi semakin intensif. Teknologi komputer-jaringan atau internet saat ini telah menjadikan transaksi informasi menjadi sangat mudah. Namun, terkadang amalgamasi atau penggabungan antara tata nilai budaya yang berbeda malah menghasilkan jenis budaya baru yang tidak relevan dengan adat istiadat dasar dari bangsa tersebut. Bahkan sering akhirnya bersifat counter-productive pada pembangunan bangsa yang bersangkutan. Dalam kasus Indonesia, misalnya intervensi budaya hedonistik dan materialis berpotensi untuk melunturkan nilai-nilai budaya dasar Indonesia yaitu kekeluargaan dan relijius (Rajasa 2011)

Pendidikan Karakter
The great hope of society is individual character (Lord Channing). Suatu bangsa akan berkembang dengan baik terlihat dari kualitas karakter masing-masing individu. Hal inilah yang menjadikan pendidikan karakter di perlukan di Indonesia. Pendidikan Indonesia yang lebih mengarah pada perkembangan aspek kognitifnya melahirkan generasi muda yang maju secara ilmu pengetahuan dan teknologi saja. Tanpa adanya karakter yang baik, generasi muda ini akan terpengaruh sesuai dengan perkembangan teknologi sehingga menciptakan generasi muda yang cerdas tapi tidak bermoral. Hal itu telah dikatakan sebelumnya oleh Theodore Roosevelt, To educate a person in mind and not in morals is to educate a menace to society.
Pendidikan karakter akan membekas jika dimulai dari usia dini. Maka dari itu dibutuhkan kerjasama antara pihak pengajar dan orang tua dalam membentuk generasi berkarakter. Anak-anak merupakan kunci pembangun bangsa. Selain itu, usia dini merupakan masa kritis bagi pembentukan karakter seseorang. Kegagalan penanaman karakter pada usia dini akan membentuk pribadi yang bermasalah di masa dewasanya.
Menurut Ratna Megawangi (2009), Karakter yang baik pada suatu individu memperlihatkan keberhasilan akademik yang meningkat serta kesehatan fisik. Hal inilah yang dibutuhkan untuk menjadi benteng pertahanan terhadap arus globalisasi.
Pendidikan karakter yang mulai dikembangkan dalam lingkup keluarga. Keluarga dalam istilah sosiologi merupakan unit terpenting dalam masyarakat. Keluarga merupakan tempat pertama dan utama dimana seseorang dididik dan dibesarkan. Dengan nilai-nilai moral yang ditanamkan sejak usia dini di keluarga diharapkan anak mampu tidak terpengaruh oleh arus globalisasi.
Peran selanjutnya dilakukan dalam lingkungan sekolah. Umumnya anak akan cepat terpengaruh dengan lingkungan terdekatnya. Pendidikan karakter yang diberlakukan sekolah di harapkan membantu pematangan emosional anak dari usia pra-sekolah hingga remaja. Sekolah merupakan tempat strategis untuk pendidikan karakter karena sebagian besar waktunya dihabiskan dengan sekolah. Maka dari itu dibutuhkan peran pemerintah dalam mencanangkan program pendidikan karater di setiap sekolah. Pendidikan karakter yang diharapkan tidak hanya meliputi aspek knowing the good melainkan juga aspek loving the good dan acting the good.

PENUTUP

Kesimpulan
Pendidikan karakter sangat dibutuhkan bagi bangsa Indonesia untuk menjadikan bangsa Indonesia dapat survive di era globalisasi. Individu-Individu yang berkarakter akan membawa bangsa Indonesia lebih maju dan dianggap oleh bangsa-bangsa lain. Selain itu, dengan pendidikan karakter usia dini maka dapat mengurangi angka kejahatan akibat pengaruh budaya asing yang masuk ke Indonesia. Maka dari itu dibutuhkan peran pemerintah untuk turut mengembangkan pendidikan karakter dalam kurikulum sekolah.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s